Postingan

Menampilkan postingan dengan label My Political Analysis

Tahun 2019: Tahun Mengokohkan Dakwah Pemikiran Islam Ideologi di Tengah Umat

Tahun 2019: Tahun Mengokohkan Dakwah Pemikiran Islam Ideologi di Tengah Umat Indira S. Rahmawaty Pemikiran sebelum perbuatan . Ilmu qabla ‘Amal . Demikian diantara rumusan yang sudah cukup masyhur. Berbagai peristiwa di dunia juga menunjukkan bahwa pemikiran atau Ide besar mendahului berbagai peristiwa besar tersebut termasuk peristiwa perubahan peta politik dunia. Di dalam kitab Attakattul Al Hizbi karya Syaikh Taqiyuddin An Nabhani   dan juga dalam buku “Falsafah Kebangkitan: Dari Ide Hingga Metode” karya Ustadz Hafidz Shalih dinyatakan bahwa: “ Setiap perbuatan harus didahului oleh pemikiran serta dilakukan dalam rangka mencapai tujuan tertentu dan dilakukan dalam suasana keimanan yang kondusif” (2003: 181). Dalam konteks perubahan, maka tidak akan ada perubahan tanpa di dahului oleh pemikiran tentang perubahan itu sendiri. Pemikiran tentang perubahan diawali dengan kesadaran akan rusak dan merusaknya kehidupan yang di jalani ( waqi alfasad)   dan idealitas ke...

Menuju Puncak Khilafah (Lagi)

Menuju Puncak Khilafah (Lagi), Langkah Pasti HTI Pasca Putusan PTUN 07 Mei 2018 bertepatan dengan 21 Sya’ban 1439 H ketika Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) menolak gugatan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menjadi suatu moment yang tak akan terlupakan dalam rangkaian perjalanan dakwah Islam di Indonesia juga dunia. Hari tersebut menjadi bukti kasat mata bagaimana sistem demokrasi-sekuler dengan hukum buatan manusianya mengangkangi ajaran Islam yang bersumber dari wahyu. Ajaran Islam yang sudah lama tercatat sebagai bagian dari khazanah fiqh Islam yaitu Khilafah. Khilafah menjadi perkara yang dipersalahkan dalam pengadilan manusia !. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang selama ini dikenal sebagai gerakan yang menyerukan Khilafahpun dicap gerakan dakwah yang harus dicabut status badan hukumnya. Sungguh, bagi mereka yang menggunakan iman dan nalar mereka maka hal ini justru menjadi moment yang makin menampakkan -tanpa kesamaran- bagaimana rusak dan merusaknya sistem sekuler-dem...

“Mahar Politik: Bukti Politik Kotor dan Logika Rancu Demokrasi-Sekuler”

“Mahar Politik:   Bukti Politik Kotor   dan Logika Rancu Demokrasi-Sekuler” Indira S.Rahmawaty Mahar politik (sebenarnya) adalah rahasia umum! Artinya publik atau masyarakat awampun mengetahui hal tersebut. Mahar politik merupakan konsekuensi logis dari sistem demokrasi yang memang berbiaya tinggi, high cost politic. Meskipun dengan berbagai kemasan istilah dan peruntukkan, prasyarat penyetoran sejumlah uang untuk meraih kursi kekuasaan adalah praktek yang mentradisi.Walaupun sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) bukan hal yang mudah untuk membuktikan bahwa mahar politik ini adalah praktek yang senyatanya terjadi. Namun pernyataan kader Partai Gerindra La Nyalla Mattalitti soal mahar politik di Pilkada Jawa Timur, bisa menjadi bukti yang cukup mewakili. Bahwa praktek mahar politik ini adalah praktek “kotor” dan perilaku rusak yang dianggap biasa, lumrah, rasional, logis dan tidak ada masalah tentangnya. Praktek maha...

Menolak Khilafah, Menolak Ajaran Islam!

Menolak Khilafah, Menolak Ajaran Islam ! Ada rasa takut sekaligus tanda tanya besar yang menyergap ketika ada spanduk terpampang bertuliskan “Tolak Khilafah” di pertengahan Juli 2017 ini. Takut akan berpalingnya Allah dan RasulNya karena yang membuat spanduk tersebut adalah kelompok Islam sendiri, muslim yang mengimani Allah dan RasulNya.   Dan selanjutnya adalah tanda tanya besar kenapa Khilafah ditolak? Menolak Khilafah tentu berbeda dengan menolak ISIS. Karena bukankah Khilafah adalah ajaran Islam? Khilafah adalah penerap seluruh hukum Islam? Mensejahterakan manusia? Terdapat dalil yang menyebut dan menunjukkannya? Terdapat bukti historis beratus tahun lamanya tentang eksistensinya? Kenapa begitu sulit menerima dan memahami khilafah tapi begitu mudah menerima sekulerisme-demokrasi? Tapi semuanya memang tentang keyakinan...tentang keimanan... Dan di zaman seperti sekarang ini kadang “logika” dan pragmatisme mengalahkan keimanan... Mempercayai janji Allah ...

Muslim Menang Tapi Islam Belum (Tentu) Menang ! (Renungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017)

Muslim Menang Tapi Islam Belum   (Tentu) Menang ! (Renungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI   Jakarta 2017) Dalam konteks pemilihan umum di negeri ini dan saat ini, kemenangan muslim dan kemenangan Islam tentu 2 (hal) yang berbeda meskipun ada irisan di dalamnya. Kemenangan Islam tentu di perjuangkan oleh muslim dan tidak ada rumusnya bisa diperjuangkan oleh non muslim. Namun kemenangan muslim belum tentu karena dan untuk kemenangan Islam. Lalu apa kemenangan muslim dan apa kemenangan Islam? Secara sederhana, kemenangan muslim bisa langsung dipahami sebagai kemenangan seseorang yang beragama Islam dalam arena perebutan kekuasaan. Pasangan calon muslim meraih suara terbanyak dan mendapatkan kursi kekuasaan. Kesimpulannya, kemenangan muslim adalah kemenangannya dalam menduduki kursi kekuasaan. Berbeda dengan kemenangan muslim, kemenangan Islam   menjadi tidak sederhana untuk dipahami. Kadang tumpang tindih bahkan disamakan dengan kemenangan muslim. ...