Postingan

Menolak Khilafah, Menolak Ajaran Islam!

Menolak Khilafah, Menolak Ajaran Islam ! Ada rasa takut sekaligus tanda tanya besar yang menyergap ketika ada spanduk terpampang bertuliskan “Tolak Khilafah” di pertengahan Juli 2017 ini. Takut akan berpalingnya Allah dan RasulNya karena yang membuat spanduk tersebut adalah kelompok Islam sendiri, muslim yang mengimani Allah dan RasulNya.   Dan selanjutnya adalah tanda tanya besar kenapa Khilafah ditolak? Menolak Khilafah tentu berbeda dengan menolak ISIS. Karena bukankah Khilafah adalah ajaran Islam? Khilafah adalah penerap seluruh hukum Islam? Mensejahterakan manusia? Terdapat dalil yang menyebut dan menunjukkannya? Terdapat bukti historis beratus tahun lamanya tentang eksistensinya? Kenapa begitu sulit menerima dan memahami khilafah tapi begitu mudah menerima sekulerisme-demokrasi? Tapi semuanya memang tentang keyakinan...tentang keimanan... Dan di zaman seperti sekarang ini kadang “logika” dan pragmatisme mengalahkan keimanan... Mempercayai janji Allah ...

Firasat Yang Tidak Mungkin Salah

Firasat Yang Tidak Mungkin Salah “Barangsiapa yang mengatupkan pandangannya dari sesuatu yang haram, mencegah dirinya dari syahwat, menetapi batinnya dengan keabadiaan di awasi Allah, meneguhkan zhahirnya untuk tetap mengikuti sunnah Rasulullah dan membiasakan makan halal, maka firasatnya tidak mungkin salah ” (Syah Al-Kirmani, dalam Risalah Al Qusyairiyah, 339) Firasat adalah suara yang masuk ke dalam hati dan meniadakan kontradiksi, dia adalah awal bisikan hati tanpa penentangan. #VersiTasawufYgSyar’iy J #NiceQuotesDalemBanget J #YukNgaji

Unreplaceable and Unrepeatable

“TAK AKAN TERGANTI DAN TAK AKAN TERULANG: ITULAH PERJALANAN DAKWAH !” Indira S. Rahmawaty Dalam hidup pasti ada banyak hal yang tak terganti dan tak akan terulang. Ada momen yang tak akan terganti, seseorang yang tak akan terganti, benda yang tak akan   terganti dan banyak hal lainnya yang tak akan terganti dan tak akan terulang. Dan itulah yang terbersit di benak saya: u nreplaceable and unrepeatable ketika perjalanan dakwah menegakkan syariah dan khilafah mendapatkan tantangan. Tak akan terganti dan tak akan terulang itulah yang terpikir ketika perjuangan mewujudkan janji Allah dan kabar gembira dari RasulNya dianggap berbahaya. Sisi tak tergantikan dan tak akan terulangnya adalah pertanyaaan : Saat momen itu saya ada dimana? Melakukan apa? Berkontribusi apa? Bukankah yang membuat Umar juga Abdurrahman bin Auf cemburu pada Abu Bakar adalah karena bukan mereka yang ada di sisi Rasulullah pada saat tergenting perjalanan dakwah, yaitu saat perjalanan hijrah d...

Muslim Menang Tapi Islam Belum (Tentu) Menang ! (Renungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017)

Muslim Menang Tapi Islam Belum   (Tentu) Menang ! (Renungan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI   Jakarta 2017) Dalam konteks pemilihan umum di negeri ini dan saat ini, kemenangan muslim dan kemenangan Islam tentu 2 (hal) yang berbeda meskipun ada irisan di dalamnya. Kemenangan Islam tentu di perjuangkan oleh muslim dan tidak ada rumusnya bisa diperjuangkan oleh non muslim. Namun kemenangan muslim belum tentu karena dan untuk kemenangan Islam. Lalu apa kemenangan muslim dan apa kemenangan Islam? Secara sederhana, kemenangan muslim bisa langsung dipahami sebagai kemenangan seseorang yang beragama Islam dalam arena perebutan kekuasaan. Pasangan calon muslim meraih suara terbanyak dan mendapatkan kursi kekuasaan. Kesimpulannya, kemenangan muslim adalah kemenangannya dalam menduduki kursi kekuasaan. Berbeda dengan kemenangan muslim, kemenangan Islam   menjadi tidak sederhana untuk dipahami. Kadang tumpang tindih bahkan disamakan dengan kemenangan muslim. ...

“Kunci Agar Tak Tertipu oleh ”Pesona” Dimas Kanjeng dan Ahok”

#Komentar Politik “Kunci Agar Tak Tertipu oleh ”Pesona” Dimas Kanjeng dan Ahok” Dimas kanjeng taat pribadi dan Ahok sepertinya menjadi 2 (dua) nama yang layak di sebut news maker dan bahkan mungkin menjadi man of the year 2016. 2 (dua) sosok inipun terhubung dengan nama tokoh intelektual ternama yang membelanya: Ada Prof.Dr. Marwah Daud Ibrahim di balik Dimas Kanjeng dan Prof. Dr. Hamka Haq di balik Ahok. Bagi saya keduanya bukan sembarang intelektual, tapi intelektual yang terhubung dengan organisasi Islam:   ICMI dan MUI.   Belum lagi kalau dikaitkan dengan asal daerah dan latar belakang keluarga maka kekentalan rasa keIslamannya makin terasa. Tulisan ini sekedar renungan diri tentang kondisi intelektual ini, sehingga secara khusus tulisan singkat ini ditujukan untuk para intelektual. Kemampuan nalar yang baik ternyata tidak cukup bagi intelektual -yang pastinya juga hanya manusia biasa- untuk tidak terbius dengan dengan pesona manusia lain yang memi...